Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sastra. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 November 2016

Ghazal, Syair Cinta Yang Kian Terlupakan [Part 2]

Ghazal, Syair Cinta Yang Kian Terlupakan [Part 1]

Setelah mengetahui pengertian, karakteristik, dan sejarah syair ghazal. Lalu bagaimana perkembangan ghazal di Indonesia? Adakah syair ghazal juga sampai di Indonesia?

Berikut penjelasannya ...

E. Sejarah dan Perkembangan Ghazal di Indonesia

Kemunculan ghazal di Indonesia dimulai saat kerajaan Islam pertama di Nusantara yakni kerajaan Samudera Pasai menjalin hubungan perdagangan yang erat dengan bangsa Parsi (Persia). Jejak pengaruh Parsi di kerajaan Samudera Pasai dapat terlihat pada epigraf yang amat menarik di Samudera Pasai berupa sebuah puisi yang di tulis dalam bahasa Parsi. Puisi ini berbentuk ghazal terpahat pada nisan yang terbuat dari batu pualam kepunyaan Na’ina Husam al-Din yang berpulang ke rahmatullah pada tahun 1420 M. Nisannya itu di hiasi dengan ornamen dedaunan dan bunga – bungaan yang amat indah. Puisi yang terukir pada makam itu adalah karya seorang penyair besar Persia yang termasyur yaitu Shaikh Muslih al-Din Sa’di ( 1133-1292 ), lahir di Shiraz dan di kebumikan di Saadiya, Iran.

Sejarah dan perkembangan sastra Indonesia (Nusantara) lama ini sudah dimulai sejak abad ke-16 di zaman Hamzah Fansuri, Nurrudin Arraniri, Syamsuddin-Al Sumatrani, hingga periode para wali di Jawa yang banyak menghasilkan suluk sebagai pengaruh budaya Islam. Namun, di Jawa jauh sebelum Islam masuk pun sudah memiliki karya sastra kakawin yang mendapat pengaruh dari India. Kesusastraan asing yang paling berpengaruh dalam kesusastraan Indonesia lama adalah kesusastraan Arab dan Parsi (Persia) sebagaimana sudah disebutkan di atas. Jejaknya itu dapat kita baca pada naskah-naskah lama yang ditulis dalam aksara Arab Melayu dan tersebar luas hingga ke seluruh wilayah Nusantara.  Karya-karya sastra dari Arab dan Parsi ini sangat banyak diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu serta meninggalkan bentuk hikayat, syair, gazal, rubai, gurindam,  masnawi, dan barzanzi dalam khazanah sastra Indonesia lama.

Adapun ciri-ciri ghazal di Indonesia terdiri atas delapan baris. Tiap baris terdiri atas 20 atau 22 suku kata. Tiap kalimat berkata akhir sama dan berima pada kata yang kedua dari belakang. Isinya masalah kebenaran yang tinggi.

Contoh :

Kekasihku seperti nyawa pun adalah terkasih dan mulia juga
Dan nyawaku pun, mana daripada nyawa itu jauh ia juga
Jika seribu tahun lamanya pun hidup ada sia-sia juga.
Hanya jika pada nyawa itu hampir dengan sedia suka juga
Nyawa itu yang menghidupkan senantiasa nyawa manusia juga.
Dan menghilangkan cintanya pun itu kekasihku yang setia juga
Kekasihku itu yang mengenak hatiku dengan rahasia juga,
Bukhari yang ada serta nyawa itu ialah berbahagia juga

Contoh lainnya :

Maka kusalinlah garis-garis hujan

Ke dalam baris syair, ghazal hujan
Engkau yang riang menyanyikan dingin
mengulang refrain, hingga tinggal hujan
Engkau yang muram mengurung murung
merintih nafas, lalu suara sengal hujan
Diujung setiap gerimis, siulan angin
siapa hati kanak tak mengigal hujan
Buah buah jatuh, lebah kupu meneduh
dalam genang kenang, sepenggal hujan
Jiwaku, ada yang tak pernah basah padamu
sejak berjejal tak terurai dalam sesal hujan


Adapun pada masa modern ini, jenis puisi ghazal sudah berkurang peminatnya dan tidak diberikan perhatian khusus oleh masyarakat. Sedangkan ghazal masih sangat digandrungi dan berkembang pesat di negara tetangga kita yaitu Malaisya. Sehingga masyarakat peminat dan penikmat jenis karya sastra klasik ini mempunyai komunitas yang diberi nama ghazal parti dan ghazal johor.

Berdasarkan penjelasan di atas tradisi berpuisi bangsa Arab mempunyai akar historis yang panjang. Tradisi puisi pada masa jahiliah adalah embrio berkembangnya sastra Arab hususnya genre yang berjenis puisi yang merupakan cerminan orisinilitas pemikiran bangsa arab juga menjadi cerminan kehidupan mereka. Sangat jelas bahwa tradisi berpuisi masyarakat jahiliah terutama syair muallaqot merupakan titik tolak majunya peradaban bangsa arab yang akan maju pesat dan menjadi sumaber peradaban dunia pada abad pertengahan saat bersentuhan dengan islam. Sehingga salah satu sastra Arab berjenis ghazal tersebut sampai ke Indonesia melalui bangsa Parsi/Persia. Ghazal yang mempunyai tema universal yaitu tentang cinta dan wanita dapat selalu ada dalam tiap masa dan berkembang sesuai dengan masa yang dimasukinya. Ghazal yang merupakan salah satu jenis puisi peninggalan Parsi ini seyoyganya dapat terus dikembangkan dan dibudayakan oleh bangsa Indonesia dengan sentuhan nilai keislaman serta jauh dari nilai negative yang selalu melekat pada tema cinta dan wanita yang dimilikinya.

Sumber Rujukan Artikel Bagian 1 dan 2 :

https://adammakarim.wordpress.com/timur-tengah/ 
https://en.wikipedia.org/wiki/Ghazal
http://ghazal-smp2252.blogspot.co.id/2010/09/perkembangan-ghazal.html
http://www.horisononline.or.id/esai/pengaruh-kesusasteraan-asing-dalam-kesusastraan-indonesia.pdf
http://samudra-sastra.blogspot.co.id/2013/01/sejarah-sastra-arab.html

Ghazal, Syair Cinta Yang Kian Terlupakan [Part 1]

Image result for ghazal syair cinta



Kuatnya tradisi bersyair bangsa arab jahiliyah digambarkan oleh Syukri Fhaisol yang mengatakan bahwa syair bangsa Arab hampir menguasai pembendaharaan bentuk ungkapan di berbagai bidang sehingga muncul berbagai macam jenis syair diantaranya adalah al-ghazal atau tasybih. Al-Ghazal atau tasybih adalah jenis puisi yang didalamnya berisi tentang ungkapan cinta bagi sang kekasih biasanya menyebutkan tentang wanita dan kecantikannya serta hal-hal yang berhubungan dengan kisah percintaan mereka. Namun, seiring perkembangan zaman jenis syair ini pun mengalami perubahan. Oleh sebab itu, pemakalah tertarik untuk menjelaskan sejarah dan perkembangan al-ghazal.

A. Pengertian Ghazal

Ghazal adalah salah satu jenis syair yang muncul pada zaman Arab Jahiliyah. Jenis puisi ini berisi tentang ungkapan cinta bagi sang kekasih biasanya menyebutkan tentang wanita dan kecantikannya bahkan tempat tinggalnya atau pun segala sesuatu yang berhubungan dengan kisah percintaan mereka.

B. Karakteristik 

Secara umum ghazal mempunyai karakteristik sebagai berikut :
1. Terdiri dari 3 baris atau lebih
2. Berirama/ berqafiyah
3. Bertemakan keindahan wanita, cinta, ataupun nafsu.

C. Tokoh Ghazal 

Umrul Qais dianggap orang pertama yang menciptakan cara menarik perhatian dengan jalan istiqhafus sohby (cara mengajak orang untuk berhenti pada puing runtuhan bekas rumah kekasihnya sekedar untuk mengenangkan masa cinta). Memang cara ini sangat menarik sekali bila digunakan dalam syair ghazal (merayu wanita) dan cara seperti ini adalah suatu cara yang amat disenangi para penyair Arab dalam membuka setiap Qashidahnya untuk perhatian orang.

Umrul Qais juga dianggap sebagai seorang penyair pertama dalam mensiasati kecantikan seorang wanita dengan mengumpamakannya dengan seekor kijang yang panjang lehernya, karena wanita yang panjang lehernya menandakan sebagai seorang wanita yang cantik.

D. Perkembangan Ghazal

1. Zaman Arab Jahiliyah

Pada zaman Jahiliyah ada 8 tema puisi yang digunakan, salah satunya adalah ghazal. Pada jahiliyah puisi ini banyak bertemakan tentang wanita. Pada puisi ini yang digambarkan pada seorang wanita adalah wajah, rambut, mata, tubuh, dan bagian lain yang merupakan suatu keindahan dari wanita tersebut. Diantara penyair ghazal pada zaman ini adalah Umrul Qais yang menggambarkan kecantikan seorang wanita yakni kekasihnya Unaizah.





فلما أجزنا ساحة الحى وانتحى       #            بنا بطن خبت زي حقاف عقنقل
هصرت بفودى رأسها فتمايلت       #           على هضيم الكشح رياالمخلخل
مهفهفة بياء غير مفاضة               #           ترائبهامصقولة كالسجنجل
وجيد كجيد الرئم ليس بفاحش        #            إزهي نصته ولا بمتعطل
وفرع يزين المتن أسود فاحم         #            أنيث كقنو النخلة المتعثكل

“Ketika kami berdua telah lewat dari perkampungan, dan sampai ditempat yang aman dari intaian orang kampung.
“Maka kutarik kepalanya sehingga ia (Unaizah) dapat melekatkan dirinya kepadaku seperti pohon yang lunak.”
“Wanita itu langsing, perutnya ramping, dan dadanya putih bagaikan kaca.”
“Lehernya panjang seperti leher Kijang, jika dipanjangkan tidak bercacat sedikitpun, karena lehernya dienuhi kalung permata.”
“Rambutnya yang panjang dan hitam bila terurai di bahunya bagaikan mayang korma.”

2. Zaman Permulaan Islam

Pada periode ini muncul dua jenis prosa yang populer, yaitu khutbah dan kitabah rasail. Jenis prosa ini bertemakan dakwah islam. Sementara itu jenis-jenis puisi pada zaman jahiliyah seperti al-wasf, ghazal, ritsa, madah dan hija masih ditulis namun lebih syar’i. Artinya tema-tema tersebut mengalami perubahan yakni lebih menggambarkan tentang suatu keindahan, akhlak manusia, dan segala hal yang berhubungan dengan agama.

Jadi jika pada zaman Jahiliyyah ghazal menggambarkan tentang wanita yang dideskripsikan sisi negatifnya. Akan tetapi pada zaman permulaan Islam temanya menjadi menceritakan tentang akhlak wanita yang mulia.

3. Zaman Bani Umayyah

Periode ini dimulai dari berdirinya Bani Umayah hingga akhir kedaulatannya Bani Umayah. Pada Zaman ini, tema-tema puisi pada zaman sebelumnya juga masih berkembang. Tapi ada juga yang mengalami perubahan seperti tema Al-Ghazal. 

Pada zaman ini, tema ghazal terbagi dua: Pertama,ghazal ‘udzri, yaitu ghazal yang menggambarkan perasaan seseorang terhadap kekasihnya. Seperti puisi-puisinya Kutsair bin Abdul Rahman al-Khazaniy, Jamil bin Abdullah bin Mu’Ammar al-Udzri, Qays bin al-Mulawwih bin Mazahimi al-‘Amiriy – yang terkenal dengan Layla wa Majnun. Kedua,ghazal maksuf, yaitu ghazal yang menggambarkan tubuh wanita serta keindahan-keindahannya. Seperti puisinya Abdullah bin Abi Rabiah al-Makhzumi, Abdullah bin Umar bin Amru bin Affan.

4. Zaman Bani Abbasiyah

Kedudukan puisi pada zaman ini mencapai puncak perkembangannya atau disebut juga sebagai zaman keemasannya. Hal ini dikarenakan perubahan dan perkembangan dalam bidang sosial, politik, ekonomi, dan peradaban atau tamadun. Tema-tema pada zaman ini terbagi menjadi dua kategori, yaitu tema-tema lama dan tema-tema baru. Tema-tema lama mendapatkan pengaruh dari zaman awal Islam dan zaman Umayyah. Salah satu tema lama yang masih ada pada zaman Abbasiah adalah ghazal.

Puisi ini terkenal dengan tema kehidupan mewah yang mana mendorong para penyair untuk hidup berfoya-foya. Disamping itu terdapat banyak “jariah” (hamba wanita) yang cantik untuk hiburan para pengunjung tempat-tempat hiburan. Oleh karenanya banyak menyebarnya puisi ghazal yang berbentuk tidak sopan dan menonjolkan ciri-ciri seks dalam puisi-puisi ghazal. Berikut ini adalah puisi Ibn al-Rumi yang memuja salah seorang biduwanita yang terkenal : 


يا خليلى تيمتنى وحيد. ففلؤادى بها معنى عميد  (1

غادة زانها من الغصن قد. ومن الظبى مقلتان وحيد  (2

وزهاها من فرعها ومن الخد. ين ذالك السواد و التوريد  (3

أوقد الحسن نارة في وحيد. فوق خد ما شانه تخديد  (4

فهى برد بخدها وسلام. وهى العاشقين جهد جهيد  (5

Yang berarti :
1) Duhai temanku, hatiku telah ditawan oleh “Wahid” dan aku telah dibelunggu oleh cintaku.
2) Gadis ayu, tubuhnya lebih lentur daripada dahan kayu, mata lehernya menyerupai kecantikan mata dan leher kijang.
3) Rambutnya hitam mayang, pipinya bak warna mawar kesegaran.
4) Kecantikan telah menyarlah sinarnya di wajah “Wahid” dan tidak ada cacat cela padanya.
5) Wajahnya lenbut damai. Bagi kekasih yang memendam kasih padanya membawa derita lara.

Pada zaman ini terdapat juga ghazal yang memuja lelaki serta menggambarkan ketampanan wajahnya. Hal ini muncul karena terjadinya kerenggangan terhadap ajaran agama dan keruntuhan moral dalam masyarakat. Timbulnya hal ini disebabkan adanya pertemuan kebudayaan Arab dengan kebudayaan asing, serta meresap dalam masyarakat Abbasiah. Berikut adalah puisi ciptaan penyair Abu Nawas.

يا خليلى تيمتنى وحيد. ففلؤادى بها معنى عميد  (1
غادة زانها من الغصن قد. ومن الظبى مقلتان وحيد  (2
وزهاها من فرعها ومن الخد. ين ذالك السواد و التوريد  (3
أوقد الحسن نارة في وحيد. فوق خد ما شانه تخديد  (4
فهى برد بخدها وسلام. وهى العاشقين جهد جهيد  (5


Yang berarti :
1) Duhai temanku, hatiku telah ditawan oleh “Wahid” dan aku telah dibelunggu oleh cintaku.
2) Gadis ayu, tubuhnya lebih lentur daripada dahan kayu, mata lehernya menyerupai kecantikan mata dan leher kijang.
3) Rambutnya hitam mayang, pipinya bak warna mawar kesegaran.
4) Kecantikan telah menyarlah sinarnya di wajah “Wahid” dan tidak ada cacat cela padanya.
5) Wajahnya lenbut damai. Bagi kekasih yang memendam kasih padanya membawa derita lara.

Selain ghazal lelaki, muncul pula puisi yang mengungkapkan kecintaan penyair kepada ilmu pengetahuan. Khalifah Abdul Malik adalah contohnya. Beliau sangat mencintai ilmu Tatkala beliau membaca kitab suci al-Qur’an, seorang utusan datang memberitahu bahwa dia diangkat menjadi khalifah. Kitab suci Al-Quran ditutup oleh beliau dan menyesali betapa pengabdiannya kepada ilmu segera berakhir. Ia lantas tak sadarkan diri. Setelah sadar dia pun menulis sajak yang artinya:


Sungguh sejenak saja aku hidup dalam waktu

Dan dunia harus kukusai dengan pedang tajam

Secepat kilat lenyap pula kebanggaan lamaku

Luluh dalam timbunan peristiwa yang silam
Sungguh bahagia andai dapat kucurahkan diriku
Untuk ilmu walaupun hanya sesaat
Tak dimabuk kenikmatan duniawi yang menyenangkan
Hidup sebagai faqir dengan dua helai kain lusuh
Bersahaja dan seadanya tida berlebihan
Begitu selamanya hingga akhirnya masuk ke liang kubur.

Sajak ini mencerminkan betapa beratnya memagang tampuk pemerintahan, sedankan dia lebih mencintai ilmu pengetahuan dibanding kedudukan yang tinggi.



Selasa, 01 November 2016

Potret Sang Orator Ulung Arab Jahiliyah, Qus bin Sa'idah Al-Iyyadi

Image result for orator zaman jahiliyah
Ilustrasi

Bangsa Arab Jahiliyah adalah bangsa yang sangat senang terhadap syair. Karena itu, mereka memandang para penyair sebagai orang yang memiliki kedudukan penting dalam masyarakat. Para penyair Arab Jahiliyah sangat pandai menggubah kata-kata hingga membentuk sebuah syair yang indah dan bermakna dalam, didukung oleh bahasa mereka (bahasa arab) yang mempunyai keindahan struktur yang khas, dan secara mengagumkan dapat mengungkapkan kata-katanya dengan kalimat yang pendek, tajam, dan epigramatik (bermakna dalam).
Salah satu penyair ternama pada masa arab jahiliyyah adalah Qus Bin Saa’idah Al-Iyyadi yang digelari sang orator ulung arab jahiliyyah oleh sebagian ahli sastra arab. Ini disebabkan Qus tidak hanya mahir menggubah sebuah syair menjadi indah  namun juga ahli dalam berorasi secara selektif, sehingga kesan yang ditimbulkan sangat kuat, jauh dari kesalahan dan senda gurau. Selain itu beliau juga merupakan sosok yang dikagumi khutbah/orasinya oleh Nabi Muhammad Shollalallahu’alaihwasallam. 

A. Potret Seorang Qus bin Sa'idah Al-Iyyadi
Nama Lengkapnya Qus bin Saa’idah bin Khudzafah bin Zuhair Ibn Iyyad bin Nizaral-Iyyadi. Ia Meninggal sekitar tahun 600 Masehi (± 23 SH). Ia berasal dari qabilah Iyad yaitu salah satu qabilah Arab yang menetap di tanah Irak, yang setia kepada Kaisar. Ia adalah salah seorang uskup dari Najran, ada yang mengatakan dia adalah peramal dan dukun yang terkenal dari orang Arab sebelum Islam masuk. 
Ahmad Amin berpendapat bahwa Ibnu Saa’idah beragama Nashrani, dalam sebuah buku “antara malal dan nahl” menuliskan bahwa "dia (Qus Bin Saa’idah Al-Iyyadi) percaya pada Tauhid dan percaya pada hari hisab". Al-Tabari meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad pernah bersabda: "Allah memberkahi Qus! aku tidak mengharapkan hari kiamat dengan mengirimkan umat seorang diri”. Pada suatu ketika ia datang kepada Kaisar, kemudian Ia memuliakannya akan tetapi Ia berpaling dan sekedar beribadah kepada Allah kemudian Qus mengatakan bahwa agama ayahnya adalah (agama) Ismail bin Ibrahim.

B. Karakteristik Syair dan Khutbah 
Selain dikenal sebagai seorang penyair, Qus bin Saa’idah Al-Iyyadi juga sering menyampaikan khutbah kepada masyarakat arab jahiliyah. Adapun karakteristik atau ciri dari syair dan khutbah beliau antara lain :
1. Kata-kata yang digunakan dalam berkhutbah sangat selektif, sehingga kesan yang ditimbulkan sangat jauh dan kuat, yaitu jauh dari kesalahan dan senda gurau.
2. Saja' (prosa bersajak dalam bahasa Arab), mempunyai pharase-pharase yang pendek dan selalu muncul secara spontan dalam setiap khutbah atau orasinya.
3. Setiap katanya banyak mengandung hikmah dan nasihat-nasihat yang baik.

C. Gelar Sang Orator Ulung Arab Jahiliyah 

Di jazirah Arab, sebelum Islam datang, kefasihan berorasi dianggap sebagai anugerah yang besar, hanya setingkat di bawah kemampuan bersyair. Pada awalnya seorang orator mendapatkan penghormatan yang lebih rendah dari seorang penyair. Namun, setelah para penyair merendahkan diri mereka dengan menerima upah dan pemberian untuk tulisan dan puisinya, tingkatan orator naik mengalahkan penyair.
Nama-nama sejumlah orator Arab sebelum kedatangan Islam telah disampaikan pada kita oleh para sejarawan dan berbagai literatur. Adi bin Zayd al-Abadi, Khuwaylid bin Amr al-Ghatfani, al-Usyara bin Jabir, Ka’ab bin Luwayy, Ibnu Ammar al-Tayi, Arm bin al-Ahtamm al –Minqari, al-Zibriqan  bin Badr, dan Suhayl bin Arm al-Qarasyi adalah beberapa nama orator yang disebutkan oleh al-Jahiz dalam bukunya, Al-Bayan Wa Al-Tabyin. Salah satu orator ternama adalah Quss bin Saa’idah Al-Iyyadi.

Qus bin Saa’idah Al-Iyyadi merupakan seorang orator ulung Arab Jahiliyyah dan menjadi idola dalam ke-balaghah-an orasinya, kata-katanya banyak mengandung hikmat dan nasehat-nasehat yang baik. ia menganut kepercayaan tauhid dan beriman kepada hari kebangkitan. Ia menyeru masyarakatnya untuk menghentikan penyembahan terhadap berhala, dan berusaha membimbing mereka untuk menyembah kepada Yang Maha Pencipta (al-Khalik). Dia mengorasikan hal itu kepada masyarakatnya dalam berbagai acara dan pada musim-musim pasaran.
Beberapa orasinya, setidaknya beberapa bagiannya, telah diabadikan oleh beberapa penulis Arab. Orasi-orasinya menggambarkan model seni berpidato pada masa Arab pra-Islam dan memberikan kita gambaran atas orasi-orasi terbaik dari orator-orator Arab pra-Islam, serta gambaran atas gaya dan metodenya dalam memperlakukan topic utama pembicaraan.
Sebagian ahli sastra Arab menyatakan bahwa Qus bin Sa'idah al-Iyyadi adalah orator pertama yang berorasi di tempat yang tinggi, orator pertama yang mengatakan dalam orasinya kata-kata "amma ba'du" (kemudian dari itu/selanjutnya), dan orator pertama yang berorasi sambil bertelekan (memegang) pedang dan tongkat.

D. Kedudukan Beliau dalam Masyarakat Jahiliyah
Masyarakat banyak yang datang kepadanya untuk meminta pengadilan dan penyelesaian terhadap sebuah permasalahan, dan beliau pun mampu mengadili mereka dengan pemikiran yang jernih dan keputusan yang tepat. Beliau adalah orang pertama yang mengatakan bahwa :

"Pembuktian atas orang yang mendakwa dan sumpah atas orang yang mengingkari"

Beliau pernah menjadi duta yang diutus kepada Kaisar Romawi. Pada suatu ketika Kaisar Romawi bertanya kepadanya :
Kaisar : Akal apakah yang paling mulia?
Beliau : Akal yang membuat seseorang dapat mengenali dirinya
Kaisar : Ilmu apakah yang paling utama?
Beliau : Ilmu yang dapat membuat seseorang melindungi dirinya
Kaisar : Sifat apakah yang paling mulia dari seorang ksatria?
Beliau : Seorang ksatria akan mampu mengendalikan air mukanya (ekspresinya)
Kaisar : Harta apakah yang paling mulia?
Beliau : Harta yang dapat membuat seseorang dapat menyelesaikan hak-haknya.

E. Kekaguman Rasulullah SAW Terhadap Beliau
Sebelum Nabi Muhammad Shollallahu’alaihwasallam diutus menjadi seorang Rasul, beliau pernah mendengar Qus berorasi dipasar Ukaz di atas unta yang berwarna kelabu. Beliau Saw begitu mengagumi keindahan kata-katanya dan mengagumi kelurusannya serta memujinya. Qus berusia panjang dan meninggal menjelang Nabi Muhammad Saw diutus menjadi Rasul. Dalam sebuah riwayat dinyatakan, bahwa Rasulullah Shollallahu‘alaih wasallam pernah kagum kepada khutbah yang pernah disampaikan oleh Qus bin Saa’idah al-Iyâdi.
Kekaguman ini beliau sampaikan pada saat menerima utusan dari Bani Iyyâd. Al-Jahiz mencatat, bahwa kesaksian itu bermula ketika nabi melihat dan mendengarkan khutbah Qus bin Saa’idah Al-Iyyadi di pasar Ukaz. Sebagaimana yang terdapat dalam kitab Shubhi al-A'sya (1: 212), seperti yang terdapat di bawah ini :

أيها الناس, أسمعوا وعوا, من عاش مات, ومن مات فات, وكل ما هو آت آت, ليل داج, ونهار ساج, وسماء ذات أبراجو ونجوم تزهر, وبحار تزحر, وجبال مرساة, وأرض مدحاة, وأنهار مجراة, إن فى السماء لخبرا, وإن فى الأرض لعبرا, ما بال الناس يذهبون ولا يرجعون؟ أرضوا فأقاموا؟ أم تركوا فناموا؟ يقسم قس بالله قسما لا إثم فيه: إن لله دينا هو أرضى لكم وأفضل من دينكم الذى أنتم عليه. إنكم لتأتون من منكرا". 

Artinya :
"Wahai segenap manusia dengarlah dan sadarlah. Sesungguhnya orang yang hidup itu akan mati. Orang yang mati itu telah berlalu. Segala yang akan datang itu pasti datang. Malam yang gelap gulita, siang yang terang benderang, langit yang berhias bintang-bintang. Bintang gemintang yang berkelap-kelip, lautan yang bergelombang, gunung-gunung yang menjulang tinggi, bumi yang menghampar, dan sungai-sungai yang mengalir. Sesungguhnya di langit itu ada kabar berita, dan di bumi itu penuh dengan pengajaran. Bagaimanakah gerangan berita tentang orang-orang yang telah pergi dan tak kembali? Adakah gerangan karena mereka suka dan mereka menetap di sana? Qus bersumpah demi Allah, suatu sumpah yang tidak mengandung dosa : Sesungguhnya Allah memiliki agama yang lebih disukai-Nya buat kalian, dan lebih utama daripada agama yang kalian jalani. Sesungguhnya kalian benar-benar mendatangkan urusan yang mungkar (yang tidak disukai Allah SWT)."

Diriwayatkan pula bahwa setelah berorasi itu, beliau mendendangkan sya'irnya :

فى الذاهبـين الأوليـ  ¤  من القرون لنا بصائر
لما رأيـت مـواردا  ¤  للموت ليس لها مصادر
ورأيت قومى نحوهـا  ¤  تمض: الأكابر والأصاغر
لا يرجع المـاضى إلى  ¤  ولا من الباقين غـابر
أيقنت أنى لا محــا  ¤  لة حيث صار القوم صائر
Artinya :
"Pada orang-orang terdahulu yang telah berlalu pergi berabad-abad silam, kita mendapatkan berbagai pelajaran"
"Ketika kulihat mereka beramai-ramai, menuju telaga kematian yang tidak dapat dihindari"
"Dan kulihat kaumku pun menuju ke arah sana dengan tak peduli, mereka yang tua renta maupun yang muda belia"
"Yang telah berlalu dan tak akan kembali lagi kepadaku, dan sementara mereka yang masih tersisa tak akan pernah tetap berada"
"Aku pun yakin bahwa tak ayal lagi aku pun pasti berlalu pergi, menuju tempat kemana kaumku pergi"

Selain itu, masih ada beberapa khutbah (pidato) Qus Bin Saa’idah Al-Iyyadi yang menginspirasi Nabi Muhammad Shollallahu’alaihwasallam, berikut beberapa diantaranya :

1. Khutbah Satu
“Di dalam hal-hal berikut ini terdapat tanda-tanda yang pasti (tidak diperdebatkan lagi), yakni: hujan dan tetumbuhan, para bapak dan para ibu, setiap yang pergi (meninggal) dan yang datang (lahir), bintang gemintang yang bergerak dan lautan yang tak dapat diselami, atap yang tinggi (langit) dan tempat tinggal yang telah tersedia (bumi), malam yang gelap dan langit yang memiliki gugusan bintang. Mengapa ini terjadi, bahwa aku melihat manusia mati dan tidak kembali? Apakah mereka merasa betah sehingga mereka tinggal di sana selamanya, atau apakah mereka tertawan hingga jatuh tertidur?” 

2. Khutbah Dua
“Wahai orang-orang Iyyad! Di manakah gerangan kaum Tsamud dan Ad? Di manakah para bapak dan moyang? Di manakah kebaikan yang tidak disyukuri; di manakah kezaliman yang tidak ditentang? Quss bersumpah dengan nama Allah, bahwa Allah memiliki suatu agama yang lebih diridhai oleh-Nya ketimbang agama kalian sekarang ini.”

Demikianlah sekilas potret kehidupan Qus bin Sa'idah Al-Iyyadi, seorang orator ulung yang khutbahnya banyak dikagumi oleh Baginda Rasulullah SAW. Semasa hidupnya beliau telah banya memberi manfaat lewat berbagai khutbah dan sya'irnya yang sarat akan hikmat dan nasehat-nasehat yang baik. Meskipun agama Islam belum ada kala itu, beliau menganut kepercayaan tauhid dan beriman kepada hari kebangkitan, sebuah risalah yang disebarkan oleh Nabi Ismail As., dan tak hanya itu beliau juga aktif menyeru kepada masyarakat jahiliyah untuk menyembah kepada Yang Maha Pencinpta (Al-Khaliq). Diriwayatkan beliau berusia panjang dan meninggal menjelang Nabi Muhammad SAW diutus menjadi Rasul.

Referensi :

Ahmad Hasan Az-Ziyaat, Tarikh Al-Adab Al-Araby. (Qahirah: DaarNahdah Mishr Li-Thabi’ Wan Nasyr)

Haeruddin S,S.2011.Kesusastraan Arab 1.Lembaga Kajian Dan Pengembangan  Pendidikan.Universitas Hasanuddin : Makassar.

Jahidz, Bayan wa al-tabyin, Maktabah Al-Khaniji, Kairo.


 

© 2013 Rinnaza.id. All rights resevered. Designed by Templateism

Back To Top